Dipukul, balaslah memukul! Tapi,…

Pada salah satu sesi pelajaran dalam kelas suatu playgroup yang murid-muridnya berasal dari bermacam-macam suku bangsa, ada yang disebut resting time. Dalam sesi ini kegiatan yang dilakukan anak-anak berusia sekitar empat tahunan itu adalah beristirahat, dalam posisi tiduran selama lebih kurang 10-15 menit di atas sejenis tikar kecil yang harus mereka buka dan gulung sendiri setelah digunakan. Salah satu bentuk pelatihan supaya anak-anak itu mengerti ada waktu bermain, ada waktu beristirahat, ada waktu untuk hal-hal tertentu, termasuk juga kemandirian.

Suatu hari, setelah menggulung tikarnya untuk dikembalikan ke tempat yang telah disediakan, Andrew memukulkan gulungan tikarnya ke Jennifer yang berada di sebelahnya. Dalam keadaan terkejut, Jennifer menjerit. Kebetulan si ibu guru yang bertugas mengawasi melihat kejadian itu dan memanggil keduanya untuk mendekat. Bukan dengan nada marah atau seolah-olah akan menghukum, tetapi menyuruh kedua anak itu berdiri berhadapan.

Kemudian si ibu guru berkata, “Jennifer, pukul dengan gulungan tikarmu di tempat mana kamu tadi dipukul Andrew.” Spontan Jennifer memukul Andrew, dan Andrew yang kemudian menjerit, “Auuuuw…”

Dengan tersenyum, si ibu guru bertanya apa yang mereka rasakan setelah dipukul. Kedua anak balita itu dengan lugunya menjawab ‘sakit’. Ibu guru itu menerangkan, kalau mereka tidak suka dipukul karena rasanya menjadi tidak nyaman atau sakit, maka jangan memukul. Sebagai akibat dari saling menyakiti itu mereka harus saling memaafkan, caranya dengan bersalaman, saling mengatakan ‘maaf’ dan saling melihat ke wajah temannya tanpa marah. Sejak anak-anak memang sebaiknya sudah dibiasakan bagaimana saling memaafkan dengan tulus, bukan basa-basi yang bahkan kadang bisa kita saksikan dua orang dewasa saling bersalaman, tetapi pandangan masing-masing mengarah entah kemana.

Pelajaran hari itu selintas memang terlihat ekstrim, masa seorang guru menyuruh muridnya membalas memukul murid yang lain. Melihat caranya, guru itu pastinya bukan bermaksud mengajarkan balas dendam, tetapi sudah memperhitungkan, bahwa tindakan pemukulan itu tidak membahayakan secara fisik dan bisa memberi pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan dengan pengalaman merasakan secara langsung. Ketika kita akan melakukan sesuatu terhadap orang lain, ada baiknya juga memikirkan bagaimana rasanya kalau hal yang sama dilakukan orang lain terhadap kita.

Sampai akhir tahun pelajaran tidak terdengar Andrew seenaknya melakukan kenakalan terhadap temannya seperti sebelum kejadian memukul dengan tikar itu, bahkan adakalanya dia berlaku seperti orang dewasa, misalnya suatu hari dia merelakan gilirannya mencuci tangan dengan mempersilakan Jennifer yang berdiri di belakangnya untuk melakukan lebih dahulu. Bayangkan, tindakan itu dilakukan oleh seorang anak lelaki berumur empat tahun yang menerapkan etiket ladies first.

Pada dasarnya dunia anak-anak menyimpan banyak hal yang bisa menjadi cermin bagi tindakan kita, kebijakan bagaimana seharusnya hidup bersama di masyarakat dengan segala bentuk keragaman. Kadang kita lupa, bahwa casing–nya saja manusia dewasa, tetapi justru di dalamnya lebih bersifat kanak-kanak. Demikian pula sebaliknya, wujud anak-anak tidak selalu kekanak-kanakan.

Pertanyaannya kemudian, cukup rendah hatikah kita untuk selalu belajar pada dunia anak-anak tanpa menjadi kekanak-kanakan?

***

 

source : http://asianaclub.wordpress.com/2011/10/03/pertengkaran-anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s